Humor dalam Rapat Pemulihan Pascabencana: Tito Karnavian dan Purbaya Yudhi Sadewa Saling Meledek



Dalam suasana yang ringan namun tetap serius, Rapat Koordinasi (Rakor) Satuan Tugas Pemulihan Pascabencana yang dilaksanakan di Aceh pada Sabtu, 10 Januari 2026, menjadi ajang untuk berbagi tawa dan candaan antara para pejabat tinggi pemerintah. Salah satu momen yang mencuri perhatian adalah interaksi antara Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

Rapat yang dipimpin oleh Wakil Ketua DPR, Sufmi Dasco Ahmad, ini diambil alih oleh Tito sebagai Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana. Dalam pembicaraannya, Tito menjelaskan bahwa satgas tersebut baru saja menerima keputusan presiden yang dikeluarkan pada tanggal 8 Januari. Ia menekankan pentingnya tugas satgas untuk mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi sambil mengingatkan bahwa situasi darurat masih berlangsung.

“Keppres ini ditetapkan untuk menegaskan bahwa kami berkomitmen untuk segera melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. Ini adalah tanggung jawab yang besar dan harus segera kami laksanakan,” tuturnya.

Tito melanjutkan dengan merinci anggota-anggota satgas, mulai dari tim pengarah hingga pelaksana. Di antara nama-nama penting yang disebutkan, ia secara tiba-tiba teringat akan pentingnya menyebut nama Purbaya, yang merupakan salah satu anggota tim pengarah. “Jangan sampai saya lupa menyebut Bapak Purbaya, karena itu bisa berbahaya. Jika beliau marah, dampaknya bisa sangat serius, terutama dalam hal pembayaran,” canda Tito, sambil menambahkan senyum yang mengundang tawa peserta rapat.

Sontak, pernyataan Tito ini mendapat respons dari Purbaya yang duduk di sampingnya. Dengan gaya santainya, Purbaya menjawab, “Kalau saya ngambek, itu hanya terjadi jika uang yang sudah disiapkan untuk utang tidak dipakai,” ujarnya sambil tersenyum.

Keduanya terlihat akrab dan saling melempar lelucon yang membuat suasana rapat menjadi lebih hangat meskipun di tengah topik serius seperti pemulihan bencana. Purbaya melanjutkan dengan menjelaskan peran pentingnya dalam pengelolaan dana, “Saya di sini hanya menghitung-hitung uang. Jika uang yang sudah terkumpul tidak dipakai, tentu saya merasa kecewa. Bagaimana bisa kami membantu masyarakat yang sedang kesulitan jika dana tidak digunakan?"

Menindaklanjuti pernyataan itu, ia menegaskan bahwa ia telah berupaya maksimal untuk mengumpulkan uang dari pajak dan sumber lainnya untuk membantu masyarakat yang terdampak bencana. “Saya sudah mengumpulkan banyak uang dari pajak, bea cukai, dan ini sangat penting untuk digunakan. Jangan sampai dana yang ada malah tidak digunakan saat masyarakat membutuhkan,” keluh Purbaya, menambahkan nuansa serius ke dalam diskusi.

Dari interaksi tersebut, terlihat adanya sinergi dan saling pengertian antara Tito dan Purbaya, meskipun mereka berada dalam posisi yang sangat berbeda di pemerintahan. Humor yang disampaikan berfungsi untuk meredakan ketegangan dalam pembahasan yang padat mengenai pemulihan bencana.

Rapat ini tidak hanya menyangkut aspek administratif, tetapi juga memberikan gambaran tentang bagaimana pemerintah berupaya berkolaborasi dalam menangani dampak bencana yang berkelanjutan. Tito dan Purbaya, meskipun berbeda dalam tugas dan tanggung jawab, menunjukkan bahwa kerja sama dan komunikasi yang baik adalah kunci dalam menghadapi tantangan besar seperti ini.

Seiring dengan perjalanan rapat yang berlangsung, Tito menjelaskan lebih lanjut tentang struktur tim pelaksana, yang terdiri dari berbagai elemen penting, termasuk Panglima TNI dan Kapolri. “Keberadaan mereka sangat krusial dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi, karena kami tidak hanya berhadapan dengan aspek teknis tetapi juga kondisi sosial yang harus kami perhatikan,” tambahnya.

Pentingnya peran tim pengarah dan pelaksana dalam satgas ini menjadi fokus utama Tito. Dia menggarisbawahi bahwa dengan adanya struktur yang jelas dan kordinasi yang baik, diharapkan proses pemulihan pascabencana dapat dilakukan dengan cepat dan tepat sasaran.

Sebagai penutup, Tito menyampaikan harapannya agar seluruh anggota satgas dapat bekerja dengan kompak dan saling mendukung. “Kita semua memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa bantuan dapat segera dirasakan oleh masyarakat yang membutuhkan. Mari kita gunakan setiap sumber daya yang ada untuk kembali membangun dan memperbaiki kehidupan mereka,” ujarnya, sebelum mengakhiri rapat dengan rasa optimis.

Rakor ini diharapkan tidak hanya menjadi forum untuk perencanaan, tetapi juga sebagai ajang untuk membangun solidaritas di antara para pejabat yang terlibat dalam pemulihan bencana. Dengan mengedepankan kerjasama dan komunikasi yang baik, diharapkan hasil yang positif dapat tercapai demi kesejahteraan masyarakat.