Ketegangan Memuncak di Yaman: Serangan Koalisi Saudi sebagai Respons terhadap Pemimpin Separatis yang Menghilang



Keadaan di Yaman kembali memanas pasca serangan udara yang dilancarkan oleh koalisi Arab Saudi, menyasar wilayah al-Dhale yang dikuasai oleh kelompok separatis. Aksi militer ini dipicu oleh ketidakhadiran Aidaros Alzubidi, pemimpin Dewan Transisi Selatan (STC), dalam pertemuan penting di Riyadh. Ketidakhadiran Alzubidi dianggap sebagai bentuk pengkhianatan oleh otoritas Yaman dan memicu ketegangan lebih lanjut di negara yang sudah terjerat dalam konflik berkepanjangan ini.

Koalisi yang dipimpin Saudi mengeluarkan ultimatum kepada Alzubidi untuk hadir di Riyadh dalam waktu 48 jam setelah STC, di bawah kepemimpinannya, berhasil merebut sejumlah wilayah strategis di Yaman dalam beberapa minggu terakhir. Penyerburan kendali ini mencakup sebagian besar Provinsi Hadramawt, yang berdekatan dengan perbatasan Saudi, dan telah menambah ketidakpastian politik di wilayah yang sudah rapuh ini.

Alzubidi, yang dilaporkan gagal hadir di Riyadh karena masalah penerbangan, dituduh oleh koalisi Saudi mengerahkan "pasukan besar" ke al-Dhale. Penilaian ini menunjukkan bahwa Alzubidi, seiring dengan ambisinya untuk memperluas kekuasaan, mulai mempersiapkan kekuatan militernya untuk mempertahankan kontrol atas wilayah yang telah direbut. Tindakan ini tidak hanya menambah ketegangan antara STC dan Riyadh, tetapi juga menciptakan ketidakpastian akan masa depan pemerintah Yaman yang sudah terfragmentasi.

Dewan Kepemimpinan Kepresidenan Yaman, yang mencakup tokoh-tokoh yang didukung oleh Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), segera merespons dengan memecat Alzubidi dari posisinya. Tuduhan pengkhianatan tingkat tinggi dijadikan alasan utama, menandakan bahwa hubungan antara berbagai faksi di Yaman semakin memburuk. Keputusan ini menambah kompleksitas dalam dinamika kekuasaan di Yaman dan dapat memicu serangkaian tindakan balasan yang berpotensi memperburuk situasi.

Kekhawatiran kini mulai menyelimuti ibu kota ekonomi Yaman, Aden, yang merupakan kota terbesar kedua setelah Sana’a. Aden telah menjadi basis utama bagi STC dan pusat aktivitas politik, namun meningkatnya ketegangan antara pasukan yang bersaing bisa berakibat fatal, mengancam keamanan dan stabilitas yang masih tersisa di kota tersebut. Dengan semakin dalamnya perpecahan antara faksi-faksi, situasi di Aden menjadi semakin tidak menentu.

Konflik yang terjadi di Yaman tidak hanya melibatkan kekuatan lokal, tetapi juga melibatkan kepentingan negara-negara asing. Hubungan antara koalisi Saudi dan UEA sendiri telah mengalami ketegangan yang signifikan, terutama setelah STC berhasil mengambil alih kontrol atas wilayah yang strategis. UEA, yang sebelumnya mendukung STC dalam beberapa aspek, kini dihadapkan pada dilema sulit, antara mendukung kelompok separatis atau mengikuti kebijakan Saudi yang semakin agresif.

Dalam sejarahnya, Yaman telah menjadi pusat konflik yang melibatkan intervensi internasional. Koalisi Saudi, yang terbentuk pada 2015, berusaha mengembalikan pemerintahan yang diakui secara internasional setelah Houthi merebut kekuasaan. Namun, seiring berjalannya waktu, konflik ini menjadi semakin rumit dengan munculnya berbagai kelompok separatis dan faksi-faksi bersaing, yang memperumit upaya untuk mencapai perdamaian secara menyeluruh.

Serangan terbaru dari koalisi Saudi, yang berhasil memukul mundur pasukan separatis STC di al-Dhale, menunjukkan bahwa meskipun STC telah meraih keberhasilan awal, tantangan untuk mempertahankan posisi mereka di tengah tekanan militer yang intens akan sangat sulit. Dalam beberapa hari terakhir, serangkaian serangan udara dan serangan darat yang dilancarkan oleh koalisi menunjukkan besarnya komitmen Riyadh untuk mengendalikan kembali wilayah yang telah hilang.

Akhir-akhir ini, situasi di Yaman semakin terlihat sebagai pertarungan kekuasaan antara berbagai aktor yang menginginkan kendali penuh atas nasib negara tersebut. Dalam konteks ini, ketidakpastian mengenai masa depan Yaman semakin meningkat, baik dalam hal stabilitas politik maupun keamanan. Pertikaian antar faksi, yang diperparah oleh intervensi asing, menciptakan skenario di mana rakyat Yaman kembali menjadi korban konflik yang tak kunjung usai.

Ke depan, langkah-langkah diplomatik akan sangat penting untuk menenangkan situasi yang sudah memanas ini. Keterlibatan aktor-aktor internasional, termasuk PBB dan negara-negara tetangga yang memiliki kepentingan di Yaman, menjadi krusial untuk mendorong dialog dan perundingan yang dapat mengakhiri kekerasan dan memulihkan stabilitas di negara tersebut.

Membutuhkan waktu dan usaha yang besar, proses rekonsiliasi di Yaman harus melibatkan semua pihak terkait agar solusi permanen dapat dicapai. Ketidakpastian yang melanda Yaman saat ini tentunya harus disikapi dengan bijaksana demi masa depan rakyat Yaman yang telah lama terjebak dalam konflik dan penderitaan.